Postingan

Menampilkan postingan dari April, 2018

Penyendiri

Aku selalu mengharap ada didalam masa yang bebas dan tepat. Pada pantai di hari kerja, Pada gunung di hari tak bisa didaki, Ataupun mungkin pada perasaan-perasaan yang tak kamu inginkan. Jelaskan bagaimana aku bisa merasakan kamu bukanlah yang tepat? Apakah terhubung pada malam yang sering ku ramaikan dan pada pagi yang sering ku diamkan. Apakah juga pada siang yang sering tertinggal kan dan terabaikan. Berikan aku pemahaman, tentang sebuah ketepatan dalam kebebasan. Bagaimana kamu bisa selalu bersamanya pada saat yang tepat dalam ruang yang mungkin penuh nikmat. Sehingga aku bisa menilai dan mengakhiri. Bahwa pada masa kini memang aku harus berakhir lagi. Menyendiri.

Hanya Aku

--- " Bila rindu sudah merangkap pada jiwa manusia yang telah lama mengharap. Tentu emosi membangun sebuah ekspetasi bahwa kesalahan bukanlah untuk pemahaman atas pembenaran. " __                               I Jika aku adalah pakaian hangat kesukaanmu, itu karena aku ingin selalu di dekatmu. Dekat namun tak terekat, Dekat tak terbatas dan tak bersyarat.                               II Peluklah aku saat kamu ingin, jangan lepaskan sampai kamu merasa bosan dan jangan kau berikan aku secara cuma-cuma kepada yang lain.                              III Rengk...

Ritme Akhir

Aku menekan tombol volume pada gawai, semakin kecil. Tidak perduli yang sunyi akan semakin sunyi. Dari manusia yang pergi tanpa kata selamat tinggal. Dan dari aku; bagaimana, kapan, berada dimana, yang juga pun tidak pernah ku ajukan kini  hadir pada sepi. Pada ritme akhir lagu terakhir dalam gawai, Aku menari dalam ruang imaji. Sampai ritme pada detik terakhir, Aku sadar mungkin sudah sangat lama kita berakhir .

Aku masih disini

Aku masih disini . Sedang menjelajahi mimpi buruk dan baik milik sendiri, melewati tata surya memunculkan pertanyaan sejauh aku terbang bumi masih tak berujung "Apakah bumi datar?". Dengan banyak tujuan mencari jawaban, entah di detik berapa aku sudah tertelan lubang hitam. Ingin dicari kamu atas rasa kehilanganku; kamu berlari di ujung semestaku yang sebenarnya adalah dirimu sendiri. Hingga kamu terjebak juga pada lubang hitam. Namun tentu kamu tak akan merasa kehilangan. Karena kamu tak pernah berusaha termiliki. Kita tidak akan pernah merasa kesamaan dalam kehilangan. Karena kamu dan aku manusia yang berbeda. -- Dalam imajinasi , jari jemari itu terulur berharap tergenggam tertangkap olehku; namun itu hanyalah kepulan asap yang menguar sekelebat. Aku jadi takut dan teriak mengumpat. "Hai Salam Kenal.." Suara lainnya mencoba memasuki alam bawah sadarku. Menciptakan gema suara baru yang membuatku khawatir dengan diriku sendiri. Lalu ku jawab, "He...

Waktu bercanda

Malam itu aku dipuncak. Tanpa kamera tanpa smartphone dan juga tanpa identitasku yang sebenarnya. Awan mengepul seperti domba yang gembul. Tertawa, saatnya waktu bercanda. Sendiri dengan harmoni angin bergesekan tebing dan pohon beringin. Syahdu seperti permainan kenny g dengan saxophone. Dingin kadang teratur tak beraturan seperti kalimat yang tak membutuhkan irama untuk berpuisi.

Cukup

Sudahlah cukup untuk kalian yang merangkup. Karena saya hanyalah kata tunggal. Tak akan menang melawan ingin yang merangkap; permainan tersingkap. Sudahlah Berhenti karena saya akan tetap tinggal dan meninggal.

Saat aku adalah aku

Mari bermain pada waktu. Dulu. Saat aku adalah aku; Lalu kamu hadir sebagai kau. Aku dan kamu sudah lama berlalu. Tapi kenapa kau masih ingin mengenalku? Sedangkan aku sudah tak ingin kamu menjadi lagi sebuah ragu.

Kembali 2

Beberapa bulan lalu masa yang menyenangkan bagi kisah dalam kegelapan. Aku banyak belajar, mengenai kepercayaan dan kekacauan. Mengaku penguasa tapi aku mendapat lawan penyelinap. Dia mampu melihat dalam kegelapan yang ku miliki tanpa izin. Entahlah sejak kapan aku tidak risih sampai pada titik mencurigai. Dia dan dia lainnya hadir dengan menyenangkan, menyentuh titik sensitif khayalanku. Mengambil celah, mengendap lalu pergi dengan cara mengendap. Lalu aku terjerembab dalam ruang yang kedap. Perkiraan ada di hati, pikiran seperti mati.

Kembali

Kembali ke beberapa tahun silam. Aku mengaku mencintai dalam kukungan hubungan yang sangat rumit. Cinta ada dikepala, rantai ada di raga, dan hatiku terpasung. Menikmati dengan cara besok tidak akan bisa mencicipi kasih lagi. Hal yang berat adalah aku lebih mencintai komitmen, setialah maka aku akan menjadi anjing untuk siapapun yang melukai kesetianku. Kesombongan itu runtuh hanya dengan sebuah foto, sentuhan fisik adalah hal yang intim bagiku. Dengan teman, sahabat apalagi dengannya dan lainnya. Cinta yang kusematkan berubah menjadi nanah, seakan yang ku bangun adalah penyakit sia-sia. Kini cinta berada di khayalanku, komitmen menguasai kepala dan kasih telah pergi lama dari hati.

Pasti Lucu

Aku sebut khayalan. Imajinasi yang dia perkenalkan adalah kesukaanku. Hingga dimenit berikutnya aku merasa dia mempermainkan, bersikap seperti kiriman seseorang yang mendendam. Kejujuran adalah suatu yang mahal, aku tak pernah bertanya bukan tak ingin mengetahui. Aku ingin mengetahui. Siapa saja yang ada di kamu. Pasti lucu.

Rangkaian kata 1

Ku buat lagi rangkaian kata, Mungkin untukmu, mungkin juga bukan. Rangkaian kata selalu punya teka-teki makna- seperti saat itu, seperti ciumanku dan seperti hal-hal kesekian lainnya. Banyak hal yang harusnya ku balas namun aku belum bisa berangkat. Namun, mungkin ku pastikan suatu saat aku sampai pada satu pulau dan kau berada disana walaupun tak menungguku. Hingga ku rangkai kata yang membuatmu kembali mengingat. Bawa aku pernah inginkan kamu tanpa harus mengikat.

Detik Kesekian

Saat air hujan jatuh, Menjadikan pantulan di jalan, Aku melafalkan suaramu dengan ingatan yang masih utuh. Lalu pada detik kesekian, Kenyataan; kau sudah berlalu, Bersama lainnya dalam kehangatan.