Postingan

Menampilkan postingan dari September, 2018

Percayalah

Berjalan bersama ekspetasi, suatu hal yang mungkin bisa tersampaikan. Jika penasaran adalah yang membuatmu sampai pada titik dimana kasih merupakan dendam dan tujuan adalah kebahagiaan. Percayalah suatu hal itu adalah awal dari siapa kamu bukanlah dirimu sebenarnya. -- Jakarta , 5 Mei 2018

Sejak Lama

Kemarin kamu menangis ingat sesuatu yang mengikis. Ada rindu, ada dendam, ada harapan yang kini begitu tipis. Beberapa jam lalu kamu tertawa, ingat sesuatu yang masih membekas. Ada lelucon, ada tawa, ada sesuatu yang sangat lepas. Lalu hadir kalimat pernyataan seharusnya aku dapat bahagia, j ika aku ingin. Kemudian menyelinap kalimat pertanyaan. "Mengapa mereka yang harus hadir di kehidupanmu?" Dan sampai pada hari berikutnya, kekecewaan masih menguasaimu, padahal kebahagian sudah ada padamu sejak lama. -- Jakarta, 5 Mei 2018

Aku tebak

Kamu selalu tertawa ketika hal lucu terdengar telingamu. Kamu selalu tersenyum saat ada hal konyol di matamu. Kamu selalu memainkan matamu saat ada hal yang kurang kamu sukai. Kamu selalu menahan nafas saat ingin meledak-ledak. Kasih sayang ada dikepala, keraguan ada diperasaan. Sentuhan sebagai keintiman, kata-kata dapat menggairahkan. Apa yang membuatmu menangis? Aku tebak, mereka yang selalu kamu inginkan? Kamu inginkan sesuai ekpestasimu. Tak apa menangislah tak perlu bersuara, tak perlu menulis, air mata sudah cukup membuat jendela duniamu banjir.

Curhat

Membahas seseorang dari masalalu, itu sepertinya tidak ada habisnya. Tapi saat ini aku ingin membahas dia, teman suka duka dimasa lalu. Tidak kami lebih dari teman, lebih dari sebuah hubungan biasa. Punya komitmen, jika ada sesuatu kami harus saling cerita. Aku ingin membahas dia, bukan karena ada sesuatu yang sama pada saat itu, tapi karena aku juga perlu memberi apresiasi untuk dia. Hubungan kami terjadi dari peristiwa rumit, aku hadir dihidupnya sebagai orang ketiga yang sebenernya aku pun tidak mengetahui. Bagaimana kami tahu? Tentu dari curhat yang kami saling ceritakan saat berteman, dan tidak sengaja nama itu terucap oleh bibirku. Nama itu pemilik seseorang yang pernah hadir di perasaan kami, seseorang yang memiliki hubungan dengan dia dan baru saja aku sudahi dari rasaku. Kami masuk dalam lingkaran rumit. Aku yang masih tidak terima. Dia yang sangat tidak terima dan kecewa. Dan seseorang itu yang tidak merasa bersalah. Saat itu yang aku pikirkan adalah menjauhi sese...