Postingan

Menampilkan postingan dari Desember, 2017

Perkataanku

Kamu adalah kata-kata yang belum ku rangkai; Kata-kata yang akan menjadi perkataanku; Perkataanku, kesukaanmu.

1 (Satu)

½ (setengah) pikiranku ku kini memikirkanmu. ½ (setengah) pikiranku menduga kamu masih memikirkannya.

Jenuh

Rasa-rasa jenuh yang saat ini di rasa mungkin akibat dari banyaknya  peluh. Peluh-peluh yang dilupakan. Peluh yang pada akhirnya menjadi jenuh, Ingin dihargai dan dibahas saat bersamanya makan. Sekedar mengadu dan mengeluh. Tapi dia milikmu sangat angkuh. Dan pada akhirnya kamu ingin membunuh atau dibunuh.

Kenapa?

Pada beberapa hal-hal aku sering membuat pertanyaan, Dari sebuah proses atau yang dihasilkan. Walaupun aku tau ada hal-hal yang tak membutuhkan jawaban. Seperti halnya jeda yang aku selalu ciptakan. Rasa-rasa kekaguman ataupun penyesalan, Rasa-rasa kebahagiaan ataupun kesedihan, Semua rasa-rasa memang seharusnya nya dirasa dan disyukuri. Maksudku mungkin ada rasa kecewa dalam rasa-rasa yang ku ciptakan tapi aku juga butuh rasa-rasa dihargai. Dihargai dalam waktu dan jeda, Atau jeda-jeda yang telah tercipta. Kenapa jeda seperti jarak? Bahkan detik - detik tak bisa menjawab. Kenapa?

Tanpa Pengecualian

Sebelum mengenang, Biarkan dirimu tak terkekang Dari detik itu menuju detik-detik yang berlalu. Mencari kesalahan dalam arti perkenalan, Atau mencari alasan dari akhir perpisahan. Air mata penyesalan bukanlah air mata cinta. Rasa sesak dirasa bukanlah alasan utama karena cinta. Semua sakit itu mungkin penjagaan atas nama sakit - sakit yang akan terjadi. Dimana letak kesalahan? Dimana suatu alasan? Semua ada pada diri sendiri. Bukan, karena diri yang salah. Semua manusia memang akan menghadapi hari dimana kata perpisahan akan terucap. Semua manusia tanpa pengecualian.

Rumasa

Di jalan raya aku menuju rumah, Tersampai mengetuk pintu dengan raga. Pintu terbuka dengan tiba-tiba. Tersaksikan laut meninggi. Bertanya apa yang kembali? Jiwa dan raga ataukah hanya raga? Aku tersungkur saat pintu tertutup. Laut meninggi ombak meliar, Mengganggu zikirku dari Alif lam ke mim'; Hingga tersadar diri hilang terbawa oleh zikir terakhir.

Gadis lusuh dikota mati.

Gadis lusuh di pusat kota mati, Kehausan tapi tak kelaparan. Bertanya melalui puisi dalam bentuk teka-teki. "Apa semua manusia kota ini sudah mati?." Tulisnya pada koran berita yang bertebaran. "Nak, apa yang kau lakukan disana?. Ayo kemari, bersama nikmati kopi hangat pada malam yang dingin ini." Nenek tua renta pemilik kedai kopi disudut kota ini. "Tak perlu mengeluarkan pertanyaan begitu banyak pada teka-teki kehidupan, karena hasilnya mungkin kesamaan semua yang hidup akan terjawab pada akhir kematian. Jadi biarkan kopi menemani kita dengan atau tanpa kebahagian. Kemarilah, nak! Cucuku juga sebaya dengan mu dia akan senang memiliki teman.'' Gadis lusuh berjalan kini dia tahu sebuah keajaiban pasti datang dari atau tanpa adanya pertanyaan teka-teki, dari atau tanpa adanya kota mati. Kota ini mati, tapi penduduknya masih hidup dalam berbagi. Gadis lusuh paham bahwa hidup berbagi lebih bahagia dari sebuah kata hidup yang berlebihan.

Tak ada alasan

Yakin bahwa diri sendiri bisa lebih bahaya jika mengkhianati diri sendiri. Jadi apa penting perlakuan manusia lain mengkhianati dirimu? Kalau kamu bisa mengendalikan dirimu untuk tidak mengkhianati, Setidaknya tidak ada alasan orang lain membuat mu menyerah.

Tak ingat

Tuliskan ku bukan hanya tentangnya melainkan hidupku, Yang aku sesalkan ialah aku lupa waktu, Sejak kapan dia jadi bagian hidupku? Aku benar-benar tak ingat kapan itu.

Dari yang terasingkan

Best regards , Dari yang diasingkan .

Biar

Pada suara-suara bersamanya telah kutemukan kejujuran. Telah ku temukan lagi kesesatan. Rapuh pada suaranya, Ingin bangkit tanpa selainnya. Namun biarkan aku ada dikenangnya ataupun tanpanya. Seterusnya dia bahagia, dan sampai lagi nanti aku tak menginginkannya.