Curhat

Membahas seseorang dari masalalu, itu sepertinya tidak ada habisnya.
Tapi saat ini aku ingin membahas dia, teman suka duka dimasa lalu.
Tidak kami lebih dari teman, lebih dari sebuah hubungan biasa.
Punya komitmen, jika ada sesuatu kami harus saling cerita.
Aku ingin membahas dia, bukan karena ada sesuatu yang sama pada saat itu, tapi karena aku juga perlu memberi apresiasi untuk dia.

Hubungan kami terjadi dari peristiwa rumit, aku hadir dihidupnya sebagai orang ketiga yang sebenernya aku pun tidak mengetahui.
Bagaimana kami tahu? Tentu dari curhat yang kami saling ceritakan saat berteman, dan tidak sengaja nama itu terucap oleh bibirku.
Nama itu pemilik seseorang yang pernah hadir di perasaan kami, seseorang yang memiliki hubungan dengan dia dan baru saja aku sudahi dari rasaku.
Kami masuk dalam lingkaran rumit.
Aku yang masih tidak terima.
Dia yang sangat tidak terima dan kecewa.
Dan seseorang itu yang tidak merasa bersalah.

Saat itu yang aku pikirkan adalah menjauhi seseorang itu dan juga dia.
Tapi dia menahanku dengan segala rayuan bahwa kita sama sama tersakiti apa perlu tersakiti lagi dengan perasaan kita masing masing?

Saat itu aku tidak menginginkannya.
Dan dia yang memaksaku untuk percaya bahwa kita bisa menjadi kita.
Bagaimana dengan perasaanmu?, pertanyaan dariku yang terjawab dengan rayuan, keseriusan dan janji.
Aku percaya diri, bahwa kita bisa.
Dengan dia yang tidak pernah ingin sama sekali membahas orang itu dan aku yang bahkan sudah lupa dengan orang itu. 

Kita saling bercerita, berbagi dari luar sampai yang terdalam, jatuh dan bangkit bersama-sama.
Berhenti sejenak, lalu mencoba berlari bersama.
Tapi hari itu aku sangat lelah, dengan segala makian darinya tentang diriku yang sangat egois ini.
Apa yang aku pikirkan? Kamu memintaku untuk dunia tau bahwa kita saling memiliki.
Bisakah sabar bahwa aku butuh waktu semesta tak akan menolak.
Bisakah sabar untuk segalanya.
Dia adalah manusia yang tidak sabaran, membawa motor dalam kecepatan tinggi, jika harus datang sore maka harus sore tidak boleh terlambat.
Kita memang berbeda watak.
Aku pasif dan dia agresif.
Aku pendiam dan dia tidak bisa diam.
Aku dengan tidak keperdulian dan dia dengan perhatian.

Aku banyak belajar darinya, bahwa seseorang pun butuh perhatian lebih detail.
Aku tidak tau makanan kesukaannya tapi dia tau makanan kesukaanku.
Aku tidak tau isi smartphone nya tapi dia tau isi smartphone ku.
Aku tidak tau sebenernya aku mencintainya atau tidak tapi dia selalu berkata "Jelek aku cinta kamu."
Aku tidak tau seberapa besar rasa kesepianku jika tidak ada dia tapi dia selalu berkata "beri aku waktu untuk mendengar suara kamu."
Tapi kita sama-sama tau ketika salah satu dari kita menangis.

Aku pikir benar aku egois, maaf jika aku menyakiti.
Saat perpisahan dia berkata sumpah serapah kejelekan ku dari wajah sampai perilaku, dia benar benar membuat aku benci.
Dia melakukan segala macam cara supaya aku juga merasa sakit hati .
Dia tidak tau aku memiliki mata yang bengkak seminggu lebih hanya karena ucapan menyakitkan itu.

Aku pergi, dia selalu bisa kembali mengusik.
Bagaimana padahal dia sudah bahagia dan aku juga bahagia setidaknya aku bebas.
Tapi lagi dan lagi terkadang dia hadir membuatku takut.
Entahlah aku tidak membenci ataupun merindu karena isi kepalaku sudah bercabang dengan manusia baru yang hadir dihidupku.

Jika dia membaca ini.
Aku mengucapkan terimakasih lagi dengan kejujuran mu mengucapkan sifat dan perilaku aku sangat banyak belajar. Maaf jika masih ada perasaan sakit yang tertinggal, sesungguhnya aku pun masih sakit dengan sumpah serapah mu.
Lebih baik kamu tidak menggangguku karena aku tidak ada niat setitik pun jadi temanmu.
Terimakasih.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Rasa Dan Karsa

Ego