Coba tebak kemana?
Aku terhina pada tembok kamar penuh cacian.
Sialan dia bertanya tentang mu.
Dia dan dia lagi berisik mengganggu istirahatku.
Ku jelaskan padanya.
Ini yang disebut manusia.
Lalu dia diam.
Bergetar dan berembun dingin sungguh licik mencari perhatian.
Diluar hujan, didalam sini terejang kejang-kejang.
Sial, aku dibuat kedinginan kini oleh kasurku.
Dia ikut bergetar dan berembun dingin, sepertinya setelah aku pergi 8 jam mereka bersekongkol mencari tahu tentang dirimu.
Sekarang apa yang kulakukan.
Aku bingung.
Setidaknya ada karpet kuning bergambar gapura masjid besar yang menjadi tatakan ku duduk terdiam bimbang.
Hubungi tidak, hubungi tidak.
Sudah menjadi shalawat pertamaku yang tak ada jalan keluar kemana-kemana.
Hubungi iya, hubungi iya.
Tapi kemana,
Coba tebak kemana?
Kini aku melayang pergi mencarimu diantara ayat suci tentang perlindungan baik untukmu.
Dan kini aku yang bergetar terejang kejang-kejang akan penyesalan tanpa penjelasan.
Akhir kata maafkan untuk aku yang tidak ada rasa pertanggung jawaban.
Komentar
Posting Komentar